Login FB
Tentang Penulis

Sistem KBK Fakultas Kedokteran Yang Terbentur

Diari Oleh umarmokhtar | 3 years ago
Yah, beginilah wajah kurikulum Fakultas kedokteran saat ini yang berubah dari sistem konvensional ke arah KBK. Sebenernya KBK sudah dimulai sejak awal di Indonesia mulai dari FK yang paling tua seperti FK UGM,FK UI diikuti FK yang lainnya. Di tempatku mulai tahun 2007 sistem itu baru mulai katanya sih mensejajarkan dengan FK yang lain, mengikuti uodate kurikulum saat ini. Ya, sistem KBK ini disebut juga sistem blok. Blok A sampai dengan E yang satu bloknya diisi oleh 5-6 mata kuliah.

Sistem blok bagi mahasiswa ternyata dianggap sulit bagaimana gak kesulitan saat masuk sistemnya tutorial langsung buat skenario kasus. Mahasiswa pontang-panting cari bahan di internet, Dituntut belajar mandiri. Padahal, kita masih buta ilmu dasar anatomi,histologi,biokimia..Tiba-tiba saja disuruh belajar kasus dalam skenario..Gmn gak kesulitan belajarnya? dan sepertinya tanpa tujuan?

Setiap tutor memang membimbing satu skenario tapi kadang-kadang mahasiswanya ada yang membahasnya sampai biomolekuler... Wah, apa gak terlalu kebablasen..Biomolekuler memang sangat bagus dipelajari, namun di klinik saat ini sedikit yang menggunakannya..Sebaiknya diajarkan seperti anamnesis, pemeriksaan fisik dan cara membuat diferensial yang baik sesuai secret seven yang lebih utama ketimbang membahas kasus sampai biomolekul...

Belum lagi masa studi mereka dipersingkat, saat kuliah seharusnya 4 tahun jadi 3 tahun..Apa gak merugikan cara berpikir mereka di lapangan..Saya saja dengan sistem konvensional masih terseret-seret dalam hal cara berpikir terhadap penyakit pasien..

Belum lagi saat mereka sudah masuk di jenjang koas/jalur profesi pendidikan dimampatkan lagi jadi 1,5 tahun..Apa gak terlalu pendek?..Katanya untuk mempercepat lulusan dokter Indonesia?..Memang caranya harus memperpendek studi?,,

Akibatnya seluruh mata kuliah profesi terpotong minggunya..Bayangin aja, Ilmu 4 besar seperti Interna,bedah,anak,obsgin dimampatkan dari 10 minggu mnjadi 8 minggu..wah, mau dapat apa kita? Terlebih lagi fak ilmu yang lain yang 4 minggu jadi 2 minggu dan 3 mingguan..Apa itu yang dinamakan mempercepat lulusan..Bagaimana nanti di lapangan?..Bayangkan saja anestesi yang dari 4 minggu jadi 2 minggu studinjy?..Farmasi dihapus dari mata kuliah?.What? kalo buat resep gimana nanti?....IIlmu Gilut gigi dan mUlut diperpendek jadi 1 minggu...Wah tambah gak tahu apa nich masalah gilut?...Apalagi tempat saya belajar adalah rumah sakit pendidikan, sudah banyak residen daripada koasnya?..Alhasil kalau koasnya gak aktif sendiri bakalan tertindas dengan reside...Kita gak dapet ilmu apa=apa?...

Dan itu berimbas pada sistem konvensional juga ikut terpotong..Emang gak bisa berjalan dua kurikulum sekaligus?..Biar yang konvensional gak papa kn waktunya banyak untuk blajar di RS?jangan ikut2-an dipotong dong?

Kita malah fokusnya sama numpuk syarat2 ujian seperti makalah2 yzng tentunya mengurangi aktivitas kita ketemu pasien...belajar ke pasien...Fenomena belajar kita berubah yang seharusnya bertemu pasien menjadi bertmu or ngadep buku terus...Emang besok pasien kita buku????..Hadeh,,,capek...ampun dech....

Dan belum lagi, mereka harus intership 1 tahun alias ke puskesmas/rumah sakit satelit untuk mereka magang...Apa?....katanya sudah digaji juga..Tp kita tetep bayar spp kalau udah intership sama aj blm dpt penghasilan?,,,

Sepertinya pendidikan dokter sekarang terlalu ribet ya?,,,Belum juga masalah pengurusan sertifikat dokter harus tes UKDI dulu...Kalo lulus Alhamdulillah udah bisa ngurus SIP tapi klu gak lulus..mw praktik juga takut wong blm punya sertifikasi kompetensi,,,harus nunggu 3 bulan untuk ikut UKDI lagi...Apa itu gak buang2 waktu,,,Terkatung-katung kn?mw buka praktek blm penya SIP nanti kalo praktek malah melanggar kode etik?

Menurut kamu gimana sistem kurikulum FK yang baik dan seharusnya baik untuk kita?

Plizz dech jangan buat kami jadi generasi galau dong...
Laporkan Thread Ini

Jika Anda suka dengan tulisan ini silahkan berbagi

medicalera.com
riocaesar @ 3 years ago
Halo dik umarmokhtar

Jujur ini bukan porsi saya sebagai seorang ahli dalam menjawab soal ini, tetapi berdasarkan observasi sementara saya ketika saya mengunjungi beberapa negara seperti Amerika Serikat, Kanada, dan beberapa negara Eropa salah satunya adalah Swedia dimana terdapat salah satu fakultas kedokteran yang paling ngetop di dunia Karolinska Institutet.

Di beberapa negara maju ini mereka menerapkan sistem KBK pada mahasiswa kedokteran, tetapi mahasiswa yang seperti apa? Tentunya kriteria yang sangat berbeda dengan apa yang ditentukan oleh beberapa calon mahasiswa kedokteran di Indonesia. Sebenarnya program KBK ini cukup mudah dan simple (bagi yang pernah menjalankannya). Di beberapa negara maju mereka menerapkan sebuah sistem yang harus dilewati oleh calon mahasiswa kedokteran, diantaranya adalah sistem community college (sekolah komunitas dimana calon mahasiswa ditelaah kembali peminatan serta bakat yang cocok untuk melanjutkan sekolah), setelah itu lebih ditekankan bagi calon mahasiswa yang telah memiliki bachelor degree (sarjana) khususnya di bidang yang bersangkutan, misalnya biologi atau biokimia.

Sistem KBK pun sebagai contohnya di Kanada, sudah mulai diterapkan bagi siswa-siswi high school (4 tahun), sehingga mereka pun ketika menghadapi sistem seperti ini sudah siap untuk menjalankannya, tidak seperti di Indonesia yang saat ini sudah menerapkan sistem KBK di jenjang SMA namun sayangnya menurut beberapa guru SMA yang pernah saya wawancarai langsung, hasilnya outstanding buruknya.

Menurut saya pribadi sebagai mantan mahasiswa kedokteran, tetap bentuk kurikulum KBK adalah belum bisa diterapkan dan harus dikembalikan ke sistem yang konvensional seperti kebanyakan dokter-dokter yang seangkatan dengan saya.

Saya tidak akan pernah mengatakan adik-adik yang menjalankan sistem kurikulum KBK itu akan menjadi dokter apa adanya, tidak, ditinjau dari segi keilmuan jelas mereka lebih banyak baca dibandingkan kami para dokter yang dididik konvensional, namun dari segi dasar mungkin kami jauh lebih baik karena memang dari awal kami sudah dididik untuk melalui sistem pendidikan yang begitu panjang (Sebut saja rantai setan satu tidak lulus maka tidak akan bisa melanjutkan semester selanjutnya).

Sebenarnya ada baiknya ada buruknya sistem KBK ini, toh semuanya baik KBK maupun konvensional akan menjadi dokter, tinggal penerapan masing-masing individu saja, ingin jadi dokter teori atau jadi dokter praktik. So pasti dua-duanya baik, tinggal menyeimbangkannya saja dokter yang baik di skill praktiknya tanpa ilmu ya apa bedanya sama dukun? Atau sebaliknya dokter yang serba teori hanya bisa ngomong dan akhirnya disegani sama pasiennya karena bikin pusing.