Login FB
Tentang Penulis

Penyebab dan penanganan gawat napas pada bayi

Info Oleh shigenoiharuki | General Health | 1 year ago
Etiologi yang paling umum dari gangguan pernapasan neonatal adalah transien tachypnea of the newborn, hal ini dipicu oleh cairan paru-paru yang berlebihan, dan gejala biasanya menghilang secara spontan. Sindrom gangguan pernafasan bisa terjadi pada bayi prematur sebagai akibat dari defisiensi surfaktan dan anatomi paru-paru kurang berkembang. Intervensi dengan oksigenasi, ventilasi, dan penggantian surfaktan sering diperlukan. Pemberian prenatal kortikosteroid pada kehamilan antara 24 dan 34 minggu mengurangi risiko sindrom distress pernapasan dari bayi yang baru lahir ketika risiko kelahiran prematur tinggi. Sindrom aspirasi mekonium diperkirakan terjadi dalam rahim sebagai akibat dari hipoksia pada gawat janin. Insiden ini tidak berkurang dengan menggunakan amnioinfusion sebelum kelahiran atau dengan penyedotan dari bayi saat melahirkan. Pilihan penanganan adalah resusitasi, oksigenasi, penggantian surfaktan, dan ventilasi. Etiologi lain dari gangguan pernapasan termasuk pneumonia, sepsis, pneumotoraks, hipertensi pulmonal persisten, dan malformasi kongenital, memerlukan penanganan khusus. Evaluasi awal untuk gangguan pernapasan persisten atau berat mungkin termasuk hitung darah lengkap dengan diferensial, radiografi dada, dan pulse oximetry.
Presentasi klinis gangguan pernapasan pada bayi baru lahir termasuk apnea, sianosis, merintih, inspirasi stridor, napas cuping hidung, sulit minum, dan takipnea. Mungkin juga terdapat retraksi ruang interkostal, subkostal, atau supraclavicula. Gangguan pernapasan terjadi pada sekitar 7 persen dari bayi. Beberapa penyebab gawat napas pada bayi antara lain sebagai berikut.
Transient Tachypnea of the Newborn (TTN)
TTN adalah penyebab paling umum dari gangguan pernapasan neonatal, yang merupakan lebih dari 40 persen kasus. Hal itu terjadi ketika cairan paru residu tetap dalam jaringan paru-paru janin setelah kelahiran. Prostaglandin yang dihasilkan setelah kelahiran melebarkan pembuluh limfatik untuk mengeluarkan cairan paru-paru dengan meningkatnya sirkulasi paru-paru melalui proses bernapas. Ketika cairan terus menetap meskipun terjadi mekanisme ini, dapat berakibat timbulnya TTN. Faktor risiko termasuk asma ibu, bayi laki-laki, makrosomia, diabetes ibu, dan persalinan sesar.
Gambaran klinis termasuk tachypnea segera setelah lahir atau dalam waktu dua jam, dengan tanda-tanda gangguan pernapasan lain. Gejala dapat berlangsung dari beberapa jam sampai dua hari. Radiografi dada menunjukkan infiltrat parenkim difus, "siluet basah" di sekitar jantung, atau akumulasi cairan intralobar.

Respiratory Distress Syndrome (RDS)
RDS juga disebut penyakit membran hialin, adalah penyebab yang paling umum dari gangguan pernapasan pada bayi prematur, berhubungan dengan ketidakdewasaan struktural dan fungsional paru-paru. Ini terjadi pada 24.000 bayi yang lahir di Amerika Serikat tiap tahun. Hal ini paling sering terjadi pada bayi yang lahir pada kurang dari 28 minggu kehamilan dan mempengaruhi sepertiga dari bayi yang lahir pada minggu ke 28-34 kehamilan, tetapi terjadi kurang dari 5 persen dari bayi yang lahir setelah 34 minggu. RDS lebih sering terjadi pada anak laki-laki, dan insidennya sekitar enam kali lebih tinggi pada bayi yang ibunya menderita diabetes, karena kematangan paru tertunda meskipun macrosomia.
Patofisiologi RDS sangat kompleks. Belum berfungsinya alveolar sel tipe II untuk menghasilkan surfaktan menyebabkan peningkatan tegangan permukaan alveolar dan penurunan pengembangan paru. Atelektasis yang terjadi menyebabkan penyempitan pembuluh darah paru, hipoperfusi, dan iskemia jaringan paru-paru. Membran hialin terbentuk melalui kombinasi dari epitel yang mengelupas, protein, dan edema.
Diagnosis sindrom gangguan pernafasan harus dicurigai bila ditemui grunting, retraksi, atau gejala distres yang khas terjadi pada bayi prematur segera setelah lahir. Hipoksia dan sianosis sering terjadi. Radiografi dada menunjukkan infiltrat buram homogen dan air bronchogram, penurunan volume paru-paru juga dapat dideteksi.

Mekonium Aspiration Syndrome (MAS)
Cairan ketuban bercampur mekonium terjadi pada sekitar 15 persen dari kelahiran, menyebabkan sindrom aspirasi mekonium pada bayi dalam 10 sampai 15 persen dari kasus tersebut, biasanya dalam jangka panjang. Mekonium terdiri dari sel-sel deskuamasi, sekret, lanugo, air, pigmen empedu, enzim pankreas, dan cairan ketuban. Meskipun steril, mekonium menyebabkan iritasi lokal, obstruksi, dan media untuk pertumbuhan bakteri. Adanya mekonium dapat mewakili hipoksia atau distress janin di dalam rahim. Gejala yang sama dapat terjadi setelah aspirasi darah atau cairan ketuban jernih.
Sindrom aspirasi mekonium menyebabkan gangguan pernapasan yang signifikan segera setelah lahir. Hipoksia terjadi karena aspirasi yang terjadi di dalam rahim. Radiografi dada menunjukkan atelektasis merata atau konsolidasi.

Infeksi
Infeksi bakteri merupakan kemungkinan penyebab lain gangguan pernapasan neonatal. Patogen umum termasuk grup B streptokokus (GBS), Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, dan batang enterik gram negatif. Pneumonia dan sepsis memiliki berbagai manifestasi, termasuk tanda-tanda khas gangguan serta ketidakstabilan suhu. Berbeda dengan TTN, RDS, dan MAS, infeksi bakteri membutuhkan waktu untuk berkembang, dengan konsekuensi gangguan pernapasan terjadi beberapa jam sampai hari setelah lahir.
Faktor risiko pneumonia termasuk ketuban pecah dini lama, prematuritas, dan demam ibu. Pencegahan infeksi GBS melalui skrining universal dan pengobatan antepartum mengurangi penyakit tingkat awal, termasuk pneumonia dan sepsis, sebanyak 80 percent.
Radiografi dada membantu dalam diagnosis, dengan infiltrat bilateral menunjukkan infeksi rahim. Efusi pleura terjadi pada dua pertiga dari kasus. Kultur darah serial dapat diperoleh untuk kemudian mengidentifikasi organisme penyebab infeksi.

Penyebab Kurang umum
Pneumotoraks, didefinisikan sebagai udara di dalam rongga pleura, bisa menjadi penyebab gangguan pernapasan neonatal ketika tekanan dalam ruang paru melebihi tekanan extrapleural. Hal ini dapat terjadi secara spontan atau sebagai akibat dari infeksi, aspirasi mekonium, kelainan paru-paru, atau barotrauma ventilasi. Insiden pneumotoraks spontan adalah 1 sampai 2 persen pada kelahiran aterm, tetapi meningkat menjadi sekitar 6 persen pada kelahiran preterm.
Persistent pulmonary hypertension of newborn (PPHN) terjadi ketika resistensi vaskuler paru gagal menurun segera setelah lahir seperti pada transisi yang normal. Etiologi yang mungkin idiopatik atau sekunder akibat sindrom aspirasi mekonium, pneumonia atau sepsis, RDS, atau TTN.
Malformasi kongenital tertentu dapat menyebabkan gangguan pernapasan, ini termasuk hypoplasia paru, emfisema kongenital, atresia esofagus, dan hernia diafragma. Hambatan saluran udara bagian atas pada choanal atresia atau cincin vaskuler dapat menyebabkan gejala yang sama. Lesi obstruktif meliputi choanal atresia, makroglosia, Sindrom Pierre Robin, lymphangioma, teratoma, massa mediastinal, kista, stenosis subglottic, dan laryngotracheomalacia. Penyakit jantung bawaan juga dapat terlibat, termasuk transposisi arteri besar dan tetralogi Fallot. Lesi jantung noncyanotic dapat menyebabkan bendungan paru sehingga terjadi gagal jantung kongestif. Lesi ini termasuk cacat septum yang besar, patent ductus arteriosus, dan coarctation dari aorta. Malformasi kadang-kadang dapat ditemukan pada pencitraan antepartum.
Gangguan neurologis seperti hidrosefalus dan perdarahan intrakranial dapat menyebabkan gangguan pernapasan. Depresi pernafasan sentral dapat terjadi setelah paparan ibu terhadap obat, termasuk analgesia dan obat-obatan terlarang.
Gangguan metabolik dan hematologi (misalnya, hipoglikemia, hipokalsemia, polisitemia, anemia) juga dapat menyebabkan gejala-gejala pernapasan. Kelainan metabolisme bawaan juga harus dipertimbangkan.

Pengobatan
Pengobatan untuk gangguan pernapasan neonatal dapat secara umum dan sesuai penyakit tertentu. Dokter harus menyadarinya saat protokol resusitasi neonatal. Oksigenasi dapat ditingkatkan dengan oksigen bertekanan, kanula nasal, atau ventilasi mekanis pada kasus yang berat. Pemberian surfaktan mungkin diperlukan. Antibiotik sering diberikan jika infeksi bakteri dicurigai secara klinis atau karena leukositosis, neutropenia, atau hipoksemia. Ampisilin dan gentamisin sering digunakan bersama-sama didasarkan pada efektivitas dan sinergi. Membran oksigenasi extracorporeal, mirip dengan paru-paru buatan eksternal, digunakan sebagai pilihan terakhir dalam keadaan kritis. Pemberian makan oral sering ditunda jika laju pernapasan melebihi 80 kali per menit.
Jika terjadi pneumotoraks, jarum drainase atau tabung dekompresi dada mungkin diperlukan. Pneumothoraks kecil dapat diobati pada bayi tanpa manajemen invasif melalui washout nitrogen. Pemberian oksigen 100% dapat mempercepat resolusi pneumotoraks karena oksigen mudah diserap menggantikan nitrogen dalam ruang paru. Teknik ini dapat mengurangi durasi pneumotoraks dari dua hari sampai delapan jam.

TTN
Pengobatan untuk TTN adalah suportif karena kondisi ini biasanya self limited. Oral furosemide (Lasix) belum terbukti secara signifikan meningkatkan kondisi dan tidak boleh diberikan. Data menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid 48 jam sebelum kelahiran sesar pada usia kehamilan 37 sampai 39 minggu mengurangi kejadian TTN.

RDS
Pengobatan untuk RDS sering memerlukan beberapa intervensi umum yang disebutkan. Selain itu, pemberian prenatal kortikosteroid pada kehamilan antara 24 dan 34 minggu mengurangi risiko RDS ketika risiko kelahiran prematur tinggi. Pemberian kortikosteroid postnatal untuk RDS dapat menurunkan risiko kematian, tetapi dapat meningkatkan risiko cerebral palsy. Inhalasi nitrat oksida dapat mengurangi hipertensi pulmonal persisten pada neonatus, namun penggunaannya pada bayi prematur perlu diteliti.

MAS
Praktek perawatan umum sering digunakan untuk sindrom aspirasi mekonium. Pencegahan dan pengobatan standar untuk sindrom aspirasi mekonium sebelumnya termasuk penyedotan mulut dan nares pada saat kelahiran kepala sebelum kelahiran tubuh. Namun, bukti terbaru menunjukkan aspirasi yang terjadi di dalam rahim, tidak pada persalinan, sehingga persalinan bayi tidak boleh terhambat untuk suctioning. Setelah lahir, bayi harus diserahkan kepada tim neonatal untuk evaluasi dan pengobatan.
Laporkan Thread Ini

Jika Anda suka dengan tulisan ini silahkan berbagi

medicalera.com
riocaesar @ 1 year ago
Halo dok!

Artikel yang menarik sekali, betul sekali bahwa kasus gangguan napas (asfiksia) pada bayi baru lahir dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian yang cukup tinggi bilamana tidak tertangani dengan baik. Untuk itu memang persalinan pada tenaga profesional yaitu bidan dan dokter adalah suatu nilai yang sifatnya sangat-sangat absolut, dimana tenaga kesehatan ini tidak hanya menangani persalinan si ibu, tetapi juga menangani kondisi bayi yang baru lahir dimana membutuhkan support yang baik seperti penghisapan lendir dan bila perlu dilakukan resusitasi agar kelak bayi tidak mendapatkan masalah setelah kelahirannya.