Login FB
Tentang Penulis

Allopurinol Hypersensitivity Syndrome Karena Dosis Tinggi Allopurinol

Info Oleh herry2sw | General Health | 1 year ago
Studi terbaru menunjukkan pemberian allopurinol dosis lebih tinggi pada awal terapi meningkatkan risiko terjadinya allopurinol hypersensitivity syndrome (AHS), efek samping yang jarang tetapi berpotensi fatal yang dapat terjadi pada awal terapi allopurinol. Menurut Dr. Lis K Stamp (MBChB, PhD, FRACP, University of Otago, Christchurch, New Zealand) dkk, AHS ditandai dengan ruam yang bersifat fatal, seperti pada sindrom Stevens-Johnson atau nekrolisis epidermal toksik, disertai eosinofi lia, leukositosis, demam, hepatitis, dan gagal fungsi hati. AHS dikaitkan dengan tingkat mortalitas yang cukup tinggi (27%) dan hanya bisa dirawat dengan diagnosis dini, penghentian allopurinol, dan perawatan suportif. Pasien wanita, lanjut usia, dengan gangguan fungsi ginjal, menerima diuretik, dan mereka yang baru saja memulai penggunaan allopurinol adalah pasien dengan risiko tertinggi.

Dr. Stamp dkk. memulai studi ini karena adanya laporan bahwa pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang menerima allopurinol dosis penuh (>300 mg/hari) berisiko mengalami AHS dan pasien tersebut mengalami penurunan ekskresi oxypurinol, metabolit aktif dari allopurinol. Sedangkan guideline yang ada saat ini tidak mencantumkan isu dosis awal vs dosis pemeliharaan. Tujuan studi ini adalah untuk menentukan hubungan antara dosis awal dengan dosis allopurinol pada waktu reaksi AHS timbul. Peneliti melakukan studi case control retroprospektif pada pasien gout yang mengalami AHS antara Januari 1998 - September 2010. Mereka mencocokkan masing-masing 54 pasien gout dengan AHS dengan 3 pasien gout kontrol yang diberi allopurinol tetapi tidak mengalami AHS. Pasien kontrol dicocokkan jenis kelamin, dosis diuretik saat mulai diberi allopurinol, umur, dan estimated glomerular filtration rate (eGFR). Pasien diidentifikasi di 5 wilayah besar New Zealand, yang merepresentasikan 3 juta penduduk. Analisis ini menunjukkan risiko AHS meningkat jika dosis awal allopurinol (yang disesuaikan dengan eGFR) ditingkatkan.

Pasien dalam kuartil tertinggi dosis awal per GFR 23 kali lebih mungkin untuk mengalami AHS, dosis awalnya adalah sebesar 1,5 mg/unit atau lebih dibanding eGFR (mg/mL/menit) dalam 91% pasien AHS, tetapi hanya pada 36% pasien gout yang tidak mengalami AHS.

Dr. Stamp mengatakan bahwa pasien yang memulai allopurinol dalam creatinine clearance-based dose atau lebih memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami AHS. Dosis awal 1,5 mg/mL eGFR didasarkan sebuah receiver operator analysis, menggunakan semua data dan clinically sensible berdasar ukuran tablet. Hampir semua kasus AHS (90%) terjadi dalam 180 hari pertama perawatan allopurinol, dengan waktu median 30 hari dari awal pemberian allopurinol.

Dr. Stamp juga mengatakan bahwa sebaiknya allopurinol diberikan dalam dosis awal rendah, kemudian ditingkatkan perlahan perbulan (start low, go slow). Peningkatan dosis allopurinol yang perlahan mungkin dapat mencegah eksaserbasi gout.

Robert Terkeltaub (MD, interim chief of the Division of Rheumatology, Allergy, and Immunology at the University of California, San Diego) menambahkan bahwa simpulan studi Dr. Stamp ini sejalan dengan rekomendasi US Food and Drug Administration dan European League Against Rheumatism yang menganjurkan allopurinol diberikan dalam dosis awal yang rendah, kemudian perlahan dititrasi naik.

Simpulannya, pemberian allopurinol dalam dosis lebih tinggi pada awal terapi meningkatkan risiko terjadinya allopurinol hypersensitivity syndrome (AHS). Sebaiknya allopurinol diberikan pada dosis rendah pada awal terapi dan dititrasi naik secara perlahan.
Laporkan Thread Ini

Jika Anda suka dengan tulisan ini silahkan berbagi

Belum ada komentar.