Login FB
Tentang Penulis

Awas Obat Keras

Info Oleh BZee | General Health | 3 years ago
Perkembangan teknologi saat ini membuat banyak orang menjadi dokter untuk dirinya sendiri. Dengan maraknya komersial obat-obatan bebas di televisi, serta informasi tanpa batas yang ditawarkan internet, di satu sisi memiliki dampak positif, di sisi lain juga menimbulkan dampak negatif.medicalera.com
Positifnya adalah semakin banyak orang 'melek' terhadap kesehatan. Terutama untuk pencegahan, setiap orang harus menyadari bahwa kesehatan itu penting dan merupakan masalah kita bersama, apapun profesinya. Di sisi lain, ada beberapa situasi yang mengharuskan seseorang untuk memeriksakan diri ke dokter, alih-alih membeli obat sendiri.

Tn. X merupakan seorang pekerja bangunan, sehari-harinya dia bekerja dari pagi hingga sore hari. Sampai di rumah pada malam harinya, tubuhnya selalu lemas dan kelelahan. Untuk itu, dia minum obat pegel linu yang dijual bebas di warung, setiap hari. Lima tahun kemudian, pada suatu hari Tn. X mengalami demam, dia minum obat penurun panas yang dijual di warung, panasnya turun, tetapi tak lama kemudian naik kembali. Dua hari kemudian dia memperhatikan bahwa tinjanya berwarna kehitaman. Kemudian mual yang telah dialami sebelumnya yang kurang diperhatikannya menjadi semakin parah, hingga dia tidak dapat bekerja selama beberapa hari. Akhirnya dia memeriksakan diri ke dokter. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, dokter mendiagnosis Tn.X dengan gastritis (peradangan pada lambung) akibat penggunaan obat yang mengiritasi lambung dalam jangka waktu yang lama.

Kasus di atas merupakan ilustrasi betapa berbahayanya jika kita tidak hati-hati dalam penggunaan obat, apalagi dalam jangka waktu yang lama. Obat-obatan yang dijual bebas memang relatif aman, selama penggunaannya sesuai dengan petunjuk. Obat yang diminum oleh Tn. X kemungkinan mengandung antiinflamasi nonsteroid (AINS) yang sangat mengiritasi lambung. Pada orang yang memiliki masalah di lambung, obat ini tidak dianjurkan, atau jika memang dibutuhkan, sebaiknya diminum setelah makan. Iritasi yang ditimbulkan oleh obat ini, dalam jangka panjang menyebabkan perlukaan yang terus menerus pada lapisan lambung sehingga dapat timbul perdarahan.
medicalera.com
Ny. Y mengalami pilek dan radang tenggorokan, tetangganya juga beberapa hari yang lalu mengalami keluhan yang sama dan sudah mendapatkan resep obat berupa antibiotik dari dokter untuk 5 hari. Tetangganya merasa sudah sembuh setelah minum obat selama 2 hari, kemudian sisa obatnya tidak diminum, dan kemudian diberikan pada Ny. Y, yang meminumnya untuk satu hari, dan kemudian merasa sehat setelahnya. Beberapa bulan kemudian, Ny. Y batuk dan demam, dia mencoba minum antibiotik sisa yang dulu, kemudian badannya terasa lebih enak. Beberapa bulan kemudian, Ny. Y sakit lagi, minum antibiotik itu lagi, sembuh lagi, dan seterusnya. Hingga suatu hari, pileknya tidak sembuh-sembuh, antibiotik yang biasa tidak mempan juga. Kemudian batuknya juga semakin menjadi-jadi. Dan akhirnya Ny. Y pergi ke dokter. Pemeriksaan menunjukkan bahwa Ny. Y mengalami peradangan pada paru-parunya. Dokter memberi antibiotik golongan lain, yang lebih kuat daripada yang biasa diminum Ny. Y, tapi setelah tiga hari belum ada kemajuan. Kemudian dahak Ny. Y diambil untuk dilakukan pemeriksaan sensitivitas antibiotik. Hasilnya, obat yang sensitif untuk kuman dalam dahak Ny. Y adalah antibiotik golongan terbaru, yang harganya masih sangat mahal.

Antibiotik merupakan obat keras, yang karenanya tidak boleh dibeli tanpa resep dokter. Aturan penggunaan serta indikasinya pun tidak sembarangan. Penggunaan obat yang tidak rasional, seperti yang dilakukan oleh Ny. Y berakibat kekebalan kuman terhadap antibiotik tersebut.
medicalera.com
Kedua ilustrasi di atas merupakan gambaran nyata sebagian masyarakat kita, yang bisa terjadi karena ketidaktahuan maupun ketidakpedulian. Kejadian-kejadian yang bisa dicegah seperti itu selayaknya tidak terjadi kembali. Dengan kemajuan teknologi informasi, seharusnya masyarakat menjadi cerdas, dan dari pihak tenaga medis juga tidak boleh bosan untuk memberikan penjelasan dan pengetahuannya.
Laporkan Thread Ini

Jika Anda suka dengan tulisan ini silahkan berbagi

medicalera.com
Andry Wibowo @ 3 years ago
Hi Bzee

benar sekali, masyarakat kita dimanjakan dengan banyaknya obat bebas ini. Padahal seperti kita tahu, obat bebas ini adalah obat simptomatis yang hanya menghilangkan gejala saja tanpa menghilangkan penyebab penyakit tersebut. Gejala boleh saja hilang namun penyebabnya tetap ada, tidak heran setelah penggunaaan obat dihentikan sakitnya timbul kembali..

Oleh karena itu mari kita cermati tulisan yang selalu tertulis pada setiap obat bebas

"Bila sakit berlanjut hubungi dokter"