Diari

lexusb

Masuk profile dia
Sekilas Profil
Yang disukai
    Belum ada yang disukai
Diari


lexusb : Teror Dokter Indonesia    

Teror Dokter Indonesia

GRATIS iPod Touch untuk Penyebar Link Terbanyak di Artikel Ini!

B000JO3Y1O-5.jpg
Cantumkan seluruh link yang sudah Anda sebarkan di internet dan lampirkan pada bagian Comment di bawah ini.


TEROR DOKTER INDONESIA

Teror dari dokter Indonesia ini terjadi ketika saya masih kecil. Tidak hanya sekali namun 2 kali! Saya dulu suka sekali bermain petak umpet bersama teman-teman. Tidak hanya di luar ruangan, kami juga sering bermain petak umpet di dalam rumah! Sungguh masa kecil yang membahagiakan. Masa-masa paling indah adalah masa-masa saat kita bermain, bermain dan bermain! Kebetulan waktu bermain petak umpet di dalam rumah saya memilih bersembunyi di balik tirai jendela. Tentu kita semua tahu bahwa tirai jendela banyak sekali mengandung debu kotor. Itu sebabnya tanpa saya sadari mata saya tiba-tiba bengkak, merah dan berair. Bola mata saya tiba-tiba membesar dan mengeluarkan cairan humor yang banyak sekali! Ibu saya yang melihat saya kaget lalu mencoba mencuci mata saya dengan cairan steril. Namun tidak banyak efeknya, pupil mata saya terus mengecil, mengerikan!

Dokter Sering Meneror Pasien!
terrorist-srex.jpg

Kedua orangtua saya lantas membawa saya ke salah satu rumah sakit pemerintah terbesar di Jakarta. Waktu sudah menunjukkan jam 10 malam namun beruntung masih ada dokter spesialis mata yang berjaga. Dokter mata tersebut akhirnya memeriksa saya dengan teliti dan akhirnya mendiagnosa saya terkena glaukoma! Sungguh dunia terasa runtuh! Cepat atau lambat saya akan kehilangan penglihatan saya kata dokter tersebut! Itu artinya saya menuju kebutaan! Mau di bawa ke mana hidup saya jika tanpa penglihatan! Hidup tanpa penglhatan seakan memakan sayur tanpa garam! Hidup terasa hambar karena tidak bisa melihat dunia yang indah berwarna-warni dengan 32 juta spektrum warna…

Mata Jendela Hati
Mata.jpg

Saya menjerit… Saya meraung-raung kemudian guling-guling di lantai… Pedih rasanya didiagnosa seperti ini. Bagaimana mungkin hanya karena bermain petak umpet di tirai jendela saya terjerumus ke dalam lembah kebutaan? Bagaimana mungkin saya bisa menerima vonis kejam dan sadis ini? Apalah daya saya?

Keindahan Sepasang Mata
mata.jpg

Kedua orangtua saya juga ikut-ikutan sedih dan menangis. Tiba-tiba ada 1 orang wanita cantik yang melihat kami bertiga menangis meraung-raung di koridor rumah sakit tersebut. Tangisan kami kebetulan memang membahana tepat di jam 12 malam dini hari. Wanita cantik ini begitu tinggi, putih dan mengenakan pakaian serba putih-putih! Kami terkejut dan tersentak! Bagaimana mungkin jam 12 dini hari masih ada seorang wanita cantik menggunakan pakaian putih-putih? Apakah ia seorang kuntilanak, sundel bolong atau malah suster ngesot? Bulu kuduk saya berdiri. Wanita ini perlahan-lahan mulai mendekati saya, saya pun lari terbirit-birit. Ia pun kaget dan lari mengejar saya dengan sangat cepat… Dengan sigap ia berhasil menarik baju dan menangkap saya. Kemudian ia menanyakan, “Mengapa kamu menangis, nak?” Dengan detak jantung kencang, sambil tersedu-sedu saya menjawab, “Saya divonis glaukoma…” Ternyata ia adalah suster jaga pada malam itu. Ia merasa kasihan kepada saya dan kemudian menawarkan dirinya untuk memerika kembali keadaan saya. Sungguh dibutuhkan 1 juta ton keberanian bagi seorang suster untuk memeriksa penyakit mengerikan yang saya alami. Akhirnya dengan seksama ia meneliti kembali mata saya dan mengatakan saya tidak terkena glaukoma, hanya miopi saja. Saya pun tertegun dan langsung memeluk suster cantik tersebut. Tak ada kata-kata yang bisa saya ucapkan. Subhanallah… Allah Maha Besar!

Anatomi Mata
eye.jpg

Kini sudah 20 tahun sejak peristiwa itu berlalu dan ternyata saya kembali didiagnosis glaukoma! Kali ini bukan di rumah sakit pemerintah, namun di salah satu rumah sakit swasta terbesar di Indonesia! Karena sudah pernah mengalami salah diagnosa saya merasa jauh lebih apatis dan tenang! Saya sudah bisa mengontrol diri dan tidak guling-guling di lantai seperti dulu… Apa yang terjadi biarlah terjadi… Namun saya tidak mau menyerah. Suster cantik yang dulu pernah menyelamatkan hidup saya dari kebutaan sudah tidak ada lagi. Jadi saya terpaksa merengek meminta dokter spesialis mata tersebut untuk memeriksa saya dengan superteliti menggunakan mesin-mesin supercanggih buatan Jerman yang harganya miliaran! Saya diperiksa berjam-jam. Tekanan bola mata saya kembali diperiksa. Penglihatan saya juga kembali diperiksa. Mata saya ditembak dengan angin berkali-kali. Mata saya juga ditembak dengan sinar berkali-kali. Saya dites apakah saya mampu melihat sinar tersebut. Ternyata saya bisa!

Sepasang Mata Bola

Blue-eye-eyes-8326071-800-600.jpg

Saya perlu mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk tindak lanjut pemeriksaan glaukoma tersebut. Saya sangat kecewa dengan para dokter spesialis mata di Indonesia yang kualitas diagnosanya cenderung asal-asalan bahkan tidak lebih baik dari seorang suster cantik! Saya berjanji tidak akan mempercayai omongan para dokter spesialis secara mentah-mentah! Saya berjanji tidak akan berkunjung ke dokter spesialis mata kalau tidak sangat terpaksa! Dari pengalaman ini saya belajar bahwa baik rumah sakit besar milik pemerintah maupun rumah sakit mewah milik swasta ternyata pelayanan dan kualitas dokternya sama buruknya! Saya kecewa dengan para dokter yang tidak bekerja dengan hati dan tidak memikirkan efek psikologis sang pasien dari hasil diagnosa yang salah. Apa jadinya jika seorang hakim memutuskan pekara dengan serampangan? Apa jadinya jika seorang doketer melakukan salah dignosa? Tentunya akan kacau republik ini. Dokter adalah hakim dan penentu kehidupan kita namun ironisnya sudah ribuan diagnosa yang salah terjadi berulang kali di Indonesia.
Sayang sekali pemerintah tidak pernah menindak tegas para dokter yang malpraktek serta melakukan diagnosis yang salah. Bandingkan di negara terdekat kita seperti Malaysia atau Singapura, di sana para dokter sangat hati-hati dan sangat teliti sebelum menjatuhkan vonis penyakit. Mereka berusaha memerika pasien berkali-kali sampai mereka yakin betul dengan diagnosanya. Mereka sangat takut ijin praktek mereka dicabut dan dituntut jutaan dollar jika mereka salah melakukan diagnosa. Harapan saya suatu hari nanti Indonesia juga bisa seperti itu. Namun kapan akan terjadi? Wallahualam…

event_002.jpg




In: Diari | 4 weeks ago | Suka |
Komen

Baca juga